Liora Episode 5: Pagi Hujan yang Menggoda

 Pagi itu, langit Eldoria mendung kelabu. Hujan gerimis tipis turun perlahan, membasahi daun-daun pohon ajaib di luar jendela dan menciptakan suara desiran lembut yang menenangkan. Di dalam kamar utama yang hangat, Aryan terbangun lebih dulu. Ia berbaring miring, memandang ibunya yang masih tertidur pulas di sampingnya—telanjang.

Cahaya pagi yang redup menyinari tubuh Liora dengan lembut: kulitnya yang mulus berkilau halus, payudaranya yang montok naik-turun pelan seiring napas damai, dan di antara paha yang sedikit terbuka, Aryan bisa melihat sekilas vagina ibunya yang masih sedikit merah dan lengket karena sperma malam tadi yang belum sepenuhnya mengering. Kenangan malam sebelumnya—bagaimana ia menghujam dalam-dalam hingga meledak di rahim ibunya—langsung membuat darahnya berdesir.

Tanpa sadar, tangan Aryan bergerak sendiri. Ia meremas salah satu payudara Liora dengan lembut tapi penuh cinta, merasakan kelembutan dan beratnya yang sempurna di telapak tangannya. Lalu ia mendekatkan mulutnya, menangkap puting yang merah muda itu dan menghisapnya pelan—penuh kasih sayang, seperti menyapa pagi dengan cara paling intim.

Liora menggeliat, matanya membuka perlahan. Alih-alih terkejut, ia hanya tersenyum manja, tangannya langsung mengelus rambut Aryan dengan lembut. “Mmm… pagi, Nak sayang… sudah tidak sabar ya?” bisiknya serak, membiarkan putranya terus menghisap dan meremas payudaranya sepuas hati.

Aryan berganti ke payudara satunya, menghisap lebih dalam sambil tangannya memijat yang lain. Sensasi itu membuat penisnya mulai bangun—mengeras perlahan di bawah selimut.

Liora merasakannya. Tangan ibunya turun, meraih penis Aryan yang sudah tegang separuh dan mengocoknya pelan dengan penuh kasih. “Nak… hari ini kamu ada pelatihan pedang sihir di desa, kan? Jangan keluar dulu ya pagi ini… nanti kamu capek dan kurang fokus,” katanya lembut tapi ada nada godaan di suaranya.

Aryan mengangguk patuh, “Iya, Ibu… aku mengerti,” jawabnya sambil mulutnya masih sibuk di payudara ibunya.

Tapi Liora tak tahan melihat wajah putranya yang sudah penuh nafsu. Matanya berkilat nakal. Ia menggeser tubuhnya sedikit, membuka kakinya lebih lebar, lalu meraih penis Aryan dan mengesekkan kepalanya ke bibir vaginanya yang sudah basah sejak terbangun. “Hanya kepalanya saja ya, Nak… biar kamu tidak terlalu pusing menahan nafsu seharian.”

Dengan gerakan lembut, Liora memasukkan hanya kepala penis Aryan ke dalam vaginanya yang hangat dan licin—cukup untuk membuat Aryan mendesah panjang, tapi tidak lebih dalam. Sensasi hangat, lembab, dan memeluk erat itu luar biasa, terutama karena hanya ujungnya yang terendam.

Mereka bertahan begitu selama kurang lebih lima belas menit—Aryan sesekali mendorong sedikit ingin lebih dalam, tapi Liora menahannya dengan pinggulnya, hanya membiarkan kepala penis bergerak kecil di pintu masuk vagina. Suara basah kecil terdengar setiap gesekan, dan wajah Aryan semakin memelas—napasnya berat, matanya penuh rindu akan kehangatan penuh yang biasa ia rasakan.

Akhirnya Liora mencabut penis itu perlahan. Wajah Aryan langsung memelas seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangan—bibirnya manyun, matanya memohon.

Liora tertawa kecil, kasihan melihatnya. “Kasihan sekali anak Ibu… baiklah.” Ia kembali mengarahkan penis itu, kali ini memasukkan sepenuhnya—masuk dalam-dalam hingga pangkal, membuat Aryan mengeluarkan erangan lega yang panjang.

“Tapi… tidak boleh goyang dan tidak boleh keluar ya,” bisik Liora sambil menatap mata putranya dalam-dalam, vaginanya menjepit erat sebagai pengingat. Mereka diam begitu saja beberapa menit—penis Aryan terendam penuh di dalam vagina ibunya yang hangat, tanpa gerakan, hanya menikmati kedekatan itu. Liora mengelus pipi Aryan lembut, “Cukup dulu ya, Nak… nanti lagi setelah kamu pulang. Sekarang Ibu mau siapkan sarapan.”

Dengan senyum nakal, Liora mengangkat pinggulnya perlahan, mencabut penis Aryan yang kini basah berkilau karena cairan vaginanya. Penis itu berdiri tegak, berdenyut kecewa di udara pagi.

Aryan menghela napas panjang, tapi tersenyum patuh. “Baik, Ibu… aku tahan sampai sore.”

Liora mencium bibirnya sebentar, lalu bangun dari ranjang dengan tubuh telanjang yang menggoda. “Anak Ibu hebat. Mandi dulu sana, Ibu buatkan sarapan favoritmu.”

Aryan mandi dengan air hangat, berusaha menenangkan nafsunya yang masih membara. Sementara Liora di dapur kecil istana, memasak dengan gaun tipis—sesekali tersenyum sendiri mengingat wajah memelas putranya tadi.

Setelah sarapan cepat yang penuh senyum dan pandangan mesra, Aryan mengenakan baju latihan dan berangkat ke desa terdekat untuk ikut pelatihan pedang sihir bersama para ksatria muda. Hujan gerimis masih turun tipis, tapi pikirannya penuh dengan janji sore nanti—janji akan vagina ibunya yang hangat, penuh, dan siap menerima segalanya lagi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu Liora

Liora Episode 1 : Malam yang Tak Terduga

Liora Episode 2: Rahasia yang Semakin Dalam