Liora Episode 2: Rahasia yang Semakin Dalam

     Pagi itu masih sangat gelap, langit Eldoria baru mulai memucat samar di ufuk timur. Aroma tanah basah setelah badai malam tadi masih menyelimuti istana kecil mereka. Di kamar mandi yang terhubung dengan kamar tidur utama, Liora berdiri di bawah pancuran air hangat dari mata air sihir. Ia membersihkan tubuhnya dengan sabun beraroma bunga lily ajaib—mengelus payudara besarnya, perut rata, dan paha mulusnya hingga bersih dari keringat dan cairan cinta malam tadi. Kali ini ia membersihkan semuanya, termasuk bagian dalam vaginanya, dengan lembut tapi teliti menggunakan air hangat dan jari-jarinya. Sperma Aryan yang semalam memenuhi rahimnya kini mengalir keluar bersama air, meninggalkan rasa kosong yang aneh… tapi juga membuatnya semakin rindu untuk diisi kembali.

    Setelah mandi, Liora mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut dari serat pohon sutra ajaib, lalu mengenakan gaun tidur tipis yang baru—putih transparan, lebih pendek dari yang malam tadi, hampir tak menutupi pahanya. Rambut hitam panjangnya masih basah, meneteskan air kecil-kecil di bahunya. Ia kembali ke kamar dengan langkah pelan, melihat Aryan masih tertidur pulas di ranjang besar, telanjang bulat, selimut hanya menutupi sebagian pinggangnya. Tubuh atletis putranya yang terpapar cahaya subuh samar terlihat begitu menggoda.

    Liora tersenyum nakal. Ia naik ke ranjang perlahan, lalu berlutut di samping kepala Aryan. Dengan gerakan lembut, ia menurunkan tali gaunnya hingga payudara besar dan montoknya terbebas sepenuhnya. Putingnya yang merah muda sudah mengeras karena udara dingin pagi dan antisipasi. Ia membungkuk pelan, mendekatkan salah satu payudaranya ke wajah Aryan yang masih tertidur, hingga putingnya hampir menyentuh bibir putranya.

    “Nak… bangun dong…” bisik Liora manja, sambil menggerakkan payudaranya pelan sehingga putingnya menyapu bibir Aryan. Sekali… dua kali… hingga akhirnya Aryan menggeliat dalam tidurnya, mulutnya terbuka sedikit, dan tanpa sadar lidahnya menyentuh puting itu.

    Sensasi hangat dan lembut itu langsung membangunkan Aryan. Matanya membuka perlahan, dan yang pertama ia lihat adalah payudara besar ibunya yang menggantung tepat di depan wajahnya, putingnya sudah basah karena sentuhan lidahnya sendiri. Bau sabun lily yang segar dari tubuh Liora bercampur aroma alami kulitnya membuat darah Aryan langsung mendidih.

    “I-Ibu…” desah Aryan serak, tapi bukannya mundur, mulutnya justru langsung menangkap puting itu dan menghisapnya dengan rakus—seperti bayi yang lapar, tapi dengan kekuatan dan nafsu pria dewasa. Ia menyedot kuat, lidahnya berputar-putar di sekitar puting, tangannya otomatis meraih payudara satunya dan meremasnya lembut.

    Liora mendesah panjang, kepalanya terangkat ke belakang. “Mmm… pagi-pagi sudah lapar ya, Nak? Hisap Ibu yang kuat… seperti dulu waktu kecil,” godanya sambil menekan payudaranya lebih dalam ke mulut Aryan. Sensasi menyusui putranya lagi—tapi kini dengan hasrat terlarang—membuat vaginanya langsung basah kembali.

    Aryan semakin liar. Ia berganti ke payudara satunya, menghisap bergantian sambil tangannya turun ke bawah gaun Liora, menemukan vaginanya yang sudah bersih dan licin karena cairan baru. “Ibu… aku mau lagi…” erangnya di sela-sela hisapan, penisnya sudah tegang maksimal, berdenyut di udara pagi.

    Liora tertawa kecil, lalu mendorong Aryan telentang dan naik ke atasnya. Ia menggeser gaunnya ke atas, lalu langsung duduk perlahan—vaginanya yang baru dibersihkan kini menelan penis Aryan sepenuhnya dalam satu gerakan halus. “Ahh… masuk semua… pagi ini Ibu kosong lagi, Nak. Kamu mau isi ulang, kan?” bisiknya sambil mulai menggoyang pinggul.

    Mereka bercinta dengan ritme lambat tapi penuh gairah di pagi subuh itu. Aryan terus menghisap payudara ibunya yang bergoyang di atas wajahnya, sementara Liora mengendarainya dengan gerakan memutar yang ahli. Semakin lama, hujaman mereka semakin keras.

    Tepat saat Aryan sudah sangat dekat dengan puncak—penisnya berdenyut kuat di dalam vagina ibunya yang semakin ketat—Liora menatap matanya dalam-dalam, tersenyum menggoda, lalu berbisik parau, “Kamu nakal sekali ya, Nak… semalam keluar di dalam Ibu begitu banyak… mau buat Ibu hamil, hmmm?”

    Kalimat itu menjadi pemicu akhir. Aryan tak bisa menahan lagi. Tanpa sepatah kata, tanpa peringatan, ia mendorong pinggulnya ke atas sekuat mungkin dan meledak di dalam ibunya lagi. Sperma panas menyembur deras—gelombang demi gelombang yang sangat banyak, langsung memenuhi rahim Liora yang baru saja kosong.

    Liora terkejut sesaat merasakan banjiran hangat itu tiba-tiba, matanya membelalak, lalu tertawa lembut penuh kasih sambil orgasme bersamaan. “Aryan… lagi! Kamu keluar di dalam lagi tanpa bilang apa-apa… nakal banget!” desahnya, tapi vaginanya justru menjepit lebih kuat, memerah setiap tetes sperma dengan lahap. “Kalau terus begini… Ibu benar-benar hamil nanti loh… dan Ibu malah senang sekali.”

    Aryan tersenyum lelah di bawah ibunya, tangannya masih meremas payudara yang baru saja ia hisap. “Aku ingin itu, Ibu… aku ingin Ibu hamil karena aku.”

    Liora mencium bibir putranya dalam-dalam, lalu berbisik, “Baiklah, Nak. Mulai sekarang, setiap pagi… kamu boleh mengisi Ibu seperti ini. Biar rahasia kita semakin manis.”

    Mereka berpelukan di ranjang yang hangat, sperma Aryan kini kembali memenuhi rahim Liora—lebih banyak, lebih dalam. Di kerajaan Eldoria yang ajaib, pagi-pagi penuh cinta terlarang seperti ini baru saja menjadi kebiasaan baru mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ibu Liora

Liora Episode 1 : Malam yang Tak Terduga